REVIEW MATERI "ADAPTIVE AND ENGAGING E-LEARNING: INOVASI PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PENDIDIKAN JARAK JAUH"
Review
ADAPTIVE
AND ENGAGING E-LEARNING: INOVASI PEMANFAATAN TEKNOLOGI INFORMASI DALAM
PENDIDIKAN JARAK JAUH
Pidato
oleh Prof. Drs. Herman Dwi Surjono, M.Sc., MT., Ph.D.
Universitas
Negeri Yogyakarta (UNY) mengadakan rapat terbuka senat dalam rangka pengukuhan
guru besar Prof. Herman Dwi Surjono, M.Sc., M.T., Ph.D pada 1 April tahun 2015.
Salah satu rangkaian acaranya adalah pidato pengukuhan dari Prof Herman
mengenai “Adaptive and Engaging E-learning: Inovasi Pemanfaatan Teknologi
Informasi dalam Pendidikan Jarak Jauh”. Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) adalah suatu proses pembelajaran yang
direncanakan dengan adanya jarak antara pengajar dan peserta didik, membutuhkan
desain instruksional yang khusus, menggunakan teknologi untuk berkomunikasi,
dan memerlukan tata kelola yang khusus. Penyelenggaraan PJJ diyakini
untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) di Indonesia hingga 60% pada
tahun 2045, sebab PJJ memiliki fleksibilitas tinggi serta daya jangkau yang luas
sehingga pendidikan dapat diakses bagi siapa saja, dimana saja, dan kapan saja.
Proses penyelenggaraan PJJ sesuai dengan perkembangan teknologi di masa kini,
sehingga pembelajaran dilakukan secara blended learning dan menggunakan e-learning.
E-learning merupakan penyampaian materi pembelajaran dari pendidik atau
instruktur kepada pembelajar melalui teknologi informasi secara daring dengan
sistem yang terbuka, fleksibel, dan terdistribusi. E-learning meliputi
aplikasi seperti computer-based learning, web-based learning, virtual
classroom, dan sebagainya. Proses PJJ menggunakan e-learning sebagai tiang utama dalam keberhasilan proses
pembelajaran. Salah satu perguruan tinggi yang telah menyelenggarakan PJJ adalah
Universitas Terbuka (UT), namun hampir seluruh perguruan tinggi telah memiliki e-learning.
Aspek keberhasilan penyelenggaraan PJJ lainnya adalah menerapkan blended
learning. Blended learning adalah proses pembelajaran yang
menggabukan sistem pembelajaran tatap muka serta proses pembelajaran secara
daring. Prof Herman menyebutkan bahwa blended learning terbukti efektif untuk
meningkatkan hasil belajar dan aktivitas pembelajaran di Universitas Negeri
Yogyakarta (UNY) dengan memanfaatkan e-learning “Besmart”. E-learning “Besmart”
digunakan oleh dosen untuk memberikan materi serta aktivitas untuk mahasiswa yang
nantinya mahasiswa dapat mengakses kapanpun serta dimanapun secara daring. Aktivitas
meliputi chatting, diskusi, kuis, tugas mingguan, ujian mid, dan ujian
akhir.
Prof Herman mengatakan bahwa penyelenggaraan
PJJ perlu adanya inovasi berdasarkan perkembangan teknologi informasi terbaru.
Perkembangan teknologi meliputi cloud computing (komputasi awan), mobile
devices (perangkat bergerak), social networking (jejaring sosial), big
data (data besar), dan resource computing (hardware dan software).
Saat ini perangkat teknologi yang terhubung dengan internet memiliki jumlah
yang sangat besar di indonesia, adapun gaya hidup pembelajar yang menggunakan
media sosial. Maka dari itu, inovasi
penyelenggaraan PJJ dapat dimanfaatkan oleh dosen dengan memfasilitasi belajar
yang mengadaptasi e-learning menggunakan media sosial. Pengambangan
sistem PJJ perlu dimanfaatkan dengan inovatif melalui pengembangan adaptive
e-learning dan engaging e-learning yang mengarah perbaikan kualitas
PJJ, peningkatan dan pemerataan akses.
Adaptive e-learning memiliki sistem yang mampu menampilkan halaman
web yang disesuaikan dengan karakteristik individu pembelajar, berfokus pada
kelompok pengguna yang lebih besar, dan memberikan bantuan navigasi untuk
mengarahkan pengguna dalam mencari informasi tanpa memberikan terlalu banyak
kebebasan. Prof Herman menyebutkan bahwa adaptive e-learning dalam
menyampaikan presentasi pembelajaran disesuaian dengan gaya belajar pembelajar
yang diukur dengan instrumen gaya belajar visual, audio, kinestetik yang
digabungkan dengan gaya belajar global dan sequential. Selain
itu, e-learning perlu dikembangkan secara engaging, yaitu bahan
ajar dilengkapi dengan aktivitas untuk pembelajar. Hal tersebut dapat membuat
pembelajar aktif, interaktif, termotivasi dan kolaboratif dalam proses PJJ. Maka
dari itu, tugas dari pendidik atau instruktur adalah merencanakan aktivitas
online di setiap minggunya.
Reviewer,
Alya Nabila (23011140006)
Mahasiswa S2 Teknologi Pembelajaran
Universitas Negeri Yogyakarta
Komentar
Posting Komentar